Log in
idzh-CNen

Kisah Sesepuh

Huineng Sesepuh Zen Ke-6

Setiap orang tanpa memandang status memiliki benih kesucian
Huineng terlahir di keluarga Lu pada tahun 638M, di kota Xing propinsi Kanton. Ayahnya meninggal ketika dia masih kecil. Karena berasal dari keluarga miskin, Beliau tak punya kesempatan belajar menulis atau membaca. Ia kemudian bekerja
sebagai tukang kayu. Suatu hari saat mengantar kayu bakar pesanan hotel langganannya, ia mendengar seorang tamu hotel membaca Sutra Intan. Luar biasanya, saat mendengar syair itu,
Beliau tercerahkan! Segera Beliau mengambil keputusan menjadi biku. Tamu itu memberikan 10 tael perak untuk diberikan pada ibunya, Setelah berjalan kaki 30 hari, tibalah Huineng di pegunungan Huang Mei, tempat patriat ke 5 tinggal.

Disana dia diterima Patriat ke 5, Hongren dan ditempatkan sebagai tukang giling padi dan potong kayu di dapur.

Menjadi Patriat ke 6
Suatu hari, Sesepuh Hongren mengumumkan akan mewariskan mangkok dan jubahnya, Untuk melihat siapa yang berhak, beliau meminta mereka menulis gatha/syair kebijaksanaan.
Namun demikian, tak satupun yang berani menulis syair. Mereka percaya yang pantas menjadi patriat ke-6 adalah Biku Kepala bernama Shenxiu, yang mereka segani. Akhirnya hanya Shenxiu yang menulis syair untuk Hongren.
Tubuh ini adalah pohon pencerahan
Pikiran adalah tempat berdirinya
cermin yang kemilau
Setiap saat harus dibersihkan
Sehingga tak ada debu yang mengotorinya.
Keesokannya suasana heboh. Saat Hongren melihat puisi itu, ia berkata, “Kalian tak akan jatuh ke dalam alam rendah, dan akan memperoleh banyak kebajikan dengan mempraktikkan syair ini.
Tanpa sepengetahuan murid yang alin, Hongren berkata pada Shenxiu, “Kamu telah tiba di pintu gerbang, tetapi belum memasukinya. Dengan tingkat pengertian ini, kamu belum mengerti bodhi tertinggi.”
Ketika seorang samanera kecil melewati dapur dan melafalkan syair itu, Huineng segera tahu puisi ini tidak sempurna. Ia pergi ke tembok itu. Karena tidak mengerti arti tulisan, ia meminta penjaga wihara menuliskan untuknya. Petugas itu terkejut, “Anda tidak terpelajar, dan ingin membuat puisi?”
Huineng berkata, “Jika ingin mencari pencerahan tertinggi, jangan memandang rendah siapapun.”Selanjutnya petugas itu menulis syair Huineng di samping syair Shenxiu.
Tak ada sesuatu yang disebut pohon pencerahan
Tak ada juga cermin kemilau dan
tempat berdirinya
Karena dari semula tak ada sesuatupun
Dimana debu bisa melekat?
Setelah itu Huineng kembali bekerja di dapur. Namun syair ini jauh lebih menggemparkan.
Namun, saat Hongren melihat syair itu, dengan tak acuh dia berkata, “Ini juga belum melihat kebenaran yang hakiki,”dan menghapusnya menggunakan sandalnya.
Tetapi, malamnya Hongren menerima Huineng dalam kamarnya, dan mengajarkan Sutra Intan.
Hongren mewariskan jubah dan mangkok pindacara ke Huineng sebagai symbol dialah Patriat ke 6.
Diantara ke enam Patriat, Setelah Bodhidharma, Huineng lah yang paling terkenal.Seperti Huineng, Semua orang bisa mencapai tingkat kesucian tanpa memandang status sosial mereka.

  • Hits: 1100
Banner 468 x 60 px